Senin, 26 Januari 2015

Lima Puluh Dua Tipe Mahasiswa




Mahasiswa dikenal dengan seseorang yang memiliki banyak ilmu, serba bisa,  cakap berorasi dan berwibawa. Namun tidak semua mahasiswa seperti yang dibayangkan, banyak ditemukan mahasiswa yang ditanya ilmu yang ditekuninnya malah tidak mengerti sama sekali. Di suatu kampus terdiri dari berbagai tipe mahasiswa, dari yang mahasiswa ideal sampai mahasiswa abal-abalan semua ada. Nah ini kan dijabarkan beberapa tipe mahasiswa;
1. Mahasiswa perfeksionis = mahasiswa yg anti sama nilai B. sekali dpt B langsung guling2 ditanah dan galau 7 turunan.

2. Mahasiswa studyholic = duduk paling depan, sehari2 ngurung diri dalam kamar buat belajar. motto hidupnya “tiada hari tanpa belajar”

3. Mahasiswa idiopatik = ga jelas kehidupannya di kampus. kadang2 ada, kadang2 ga ada.

4. Mahasiswa poli-organisasi = aktif diberbagai organisasi kampus. motto hidupnya “banyak organisasi, banyak rezeki”

5. Mahasiswa pasrah = dapat E? ah tenang, kan ga cuman aku doang yang ga lulus

6. Mahasiswa pecinta = kerjaan sehari2nya pacaran tak peduli tempat, waktu, dan lokasi.

7. Mahasiswa cadaLOver = saking terobsesinya sama cadaver, ampe kuliahnya hanya saat ada materi anatomi atau pratikum anatomi. (#kedokteranonly)

8. Mahasiswa SKS = tipe paling banyak di tiap kampus. belajar sampai larut hanya ketika besoknya ujian.

10. Mahasiswa paket hemat = datengnya pas praktikum,skill lab ma tutor doang

11. Mahasiswa galau = tiap malam ngetweet galau sambil dengerin lagu2 adele

12. Mahasiswa setengah dewa = Tiap hari kerjaan nya maen game dan OL, tapi selalu berhasil kalo ujian.

13. Mahasiswa gaul stadium 4 = ke kampus pakai kaos oblong dan celana jeans

14. Mahasiswa inhibitor = sukanya nanya2 ke dosen sehingga menghambat mahasiswa yg lain utk pulang

15. Mahasiswa kritis : selalu nanya jadwal kuliah padahal modul dia punya, dan bertanya terus kapan dosen masuk

16. Mahasiswa OVJ = tiada hari tanpa membuat tertawa teman2nya

17. Mahasiswa petani = datang paling pagi buat bookingin tempat duduk temen

18. Mahasiswa insert investigasi = niat dateng ke kampus buat nyari gosip2 ter-hot seangkatan

19. Mahasiswa asianlover = tiap hari ngebahas korea. suka teriak2 ga jelas tiap ngeliat foto/ video artis korea

20. Mahasiswa FreeAll = datang ke kmpus bawa laptop untuk dapat ngenet gratis dan download film gratis pake sinyal wifi kampus

21. Mahasiswa the ripper = pembunuh teman saat tutorial

22. Mahasiswa dreamer = kerjaannya tidur di kelas dari awal sampai habis

23. Mahasiswa KW 9 = beli buku yg bajakan semua.

24. Mahasiswa ekstrovert : suka gosipin kelakuan teman²nya & dosen

25. Mahasiswa pa bondan = dateng ke kampus cuma nongkrong di kantin sambil ngeborong kuliner

26. Mahasiswa introvert = punya bahan untuk belajar buat ujian dari dosen hanya disimpan buat sendiri, ogah bagiin ke teman²

27. Mahasiswa perpustakaan berjalan = kemana2 bawa buku yg tebel2

28. Mahasiswa JournalLover = bawa jurnal kemana2 tapi ga paham isinya apa

29. Mahasiswa model : kekampus pakai height heel lebih 10 cm„,

30. Mahasiswa pencabut dompet = sukanya nagih uang ke teman

31. Mahasiswa Konter = datang ke kampus menawarkan jasa pulsa elektrik

32. Mahasiswa recorder = hafal semua yang dikatakan dosen waktu kuliah

33. Mahasiswa program KB = IP 2 cukup

34. Mahasiswa hemat listrik : suka ngecas bb. Laptop,hape dikampus

35. Mahasiswa SOGO = ke kampus dandannya kaya mau liburan keluar negri

36. Mahasiswa hemat air = suka numpang mandi dan BAB di wc kampus

37. Mahasiswa buku berjalan = mahasiswa yang saking pinternya, ditanyain materi selalu bisa jawab

38. Mahasiswa game center = mahasiswa yang datang ke kampus cuma buat maen game online bareng temen seangkatan

39. Mahasiswa cool = paling suka duduk dibawah AC ketika kuliah

40. Mahasiswa las vegas = ke kampus cuma buat maen poker sama UNO di kantin.

41. Mahasiswa olahragawan = ke kampus selalu pake sepatu futsal

42. Mahasiswa superman = kemana-mana sobotta dan dorland d gendong d tas

43. Mahasiswa RU = ada apa apa dikit langsung updet pm, menuhin recent updates

44. Mahasiswa bermodal cinta = datang ke kampus ga bawa apa2

45. Mahasiswa joki 3 in 1 = suka nebeng temen ke kampus

46. Mahasiswa seks bebas = suka nyucuk flashdisk berisi virus ke berbagai laptop

47. Mahasiswa tutorial oriented = hanya belajar keras saat tutorial aja

48. Mahasiswa kupu2 = kuliah-pulang kuliah-pulang

49. Mahasiswa salesman = gaya berpakaiannya susah dibedakan antara mahasiswa dan salesman

50. Mahasiswa gaib = kehadirannya tidak jelas.

51. Mahasiswa kura - kura = kuliah rapat kuliah rapat

52. Mahasiswa Tilang = Titip absen langsung pulang

Bagaimana readers? mungkin diantara dari sekian banyak tipe mahasiswa yang saya paparkan diatas ada salah satunya yang paling mencerminkan dan paling persis dengan readers. Jika pun ada ya nggak usah minder, jalani saja, karena watak ya watak, mahasiswa tetap mahasiswa, tulang punggung negara di masa depan. Hidup Mahasiswa !!!


Sumber:
 http://blog3hari.blogspot.com


Minggu, 25 Januari 2015

Penerapan Aliran Idealisme dalam Pendidikan Indonesia



Beberapa pengertian Idealisme :
1.        Adanya suatu teori bahwa alam semesta beserta isinya adalah suatu   penjelmaan pikiran. 
2.        Untuk menyakan eksistensi realitas, tergantung pada suatu pikiran dan aktivitas-aktivitas pikiran.
3.        Realitas dijelaskan berkenaan dengan gejala-gejala psikis seperti pikiran-pikiran, diri, roh, ide-ide, pemikiran mutlak dan lain sebagainya dan bukan berkenaan dengan materi.
4.        Seluruh realitas sangat bersifat mental (spiritual, psikis). Materi dalam bentuk  fisik tidak ada.
5.        Hanya ada aktivitas berjenis pikiran dan isi pikiran yang ada. Dunia eksternal tidak bersifat fisik.
William E. Hocking, seorang penganut idealisme modern, mengungkapkan bahwa, sebutan ”ide-isme” kiranya lebih baik dibandingkan dengan idealisme.[10] Hal itu benar, karena idealisme lebih berkaitan dengan konsep-konsep “abadi” (ideas), seperti kebenaran, keindahan, & kemuliaan daripada berkaitan dengan usaha serius dengan orientasi keunggulan yang bisa dimaksudkan ketika kita berucap, “Dia sangat idealistik”.
Idealisme mempunyai pendirian bahwa kenyataan itu terdiri dari atau tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan atau ide-ide. Alam fisik ini tergantung dari jiwa universal atau Tuhan, yang berarti pula bahwa alam adalah ekspresi dari jiwa tersebut.[11]
Inti dari Idealisme adalah suatu penekanan pada realitas ide-gagasan, pemikiran, akal-pikir atau kedirian daripada sebagai suatu penekanan pada objek-objek & daya-daya material. Idealisme menekankan akal pikir (mind) sebagai hal dasar atau lebih dulu ada bagi materi, & bahkan menganggap bahwa akal pikir adalah sesuatu yang nyata, sedangkan materi adalah akibat yang ditimbulkan oleh akal-pikir atau jiwa (mind). Hal itu sangat berlawanan dengan materialisme yang berpendapat bahwa materi adalah nyata ada,  sedangkan akal-pikir (mind) adalah sebuah fenomena pengiring.
 Pandangan beberapa filsuf mengenai Idealisme:
1.     Schelling memberikan nama yang diberikan Idealisme subyektif pada filsafat Fichte, dengan alasan bahwa dalam pemikiran Fichte dunia merupakan postulat subyek yang memutuskan.
2.     Idealisme obyektif adalah nama yang diberikan oleh Schelling pada pemikiran filsafatnya. Menurutnya, alam adalah intelegensi yang kelihatan. Hal tersebut menunjukkan semua filsafat yang mengidentikkan realitas dengan ide, akal atau roh.
3.     Hegel menerima klasifikasi schelling, dan mengubahnya menjadi idealisme absolut sebagai sintesis dari pandangan idealisme subyektif (tesis) dan obyektif (antitesis).
4.     Idealisme transendental adalah pandangan dan penyebutan dari Immanuel kant. Sering disebut sebagai idealisme kritis. Pandangan ini mempunyai alternatif yaitu isi dari pengalaman langsung tidak dianggap sebagai benda dalam dirinya, sedangkan ruang dan waktu merupakan forma intuisi kita sendiri.
5.     Idealisme epistimologi merupakan suatu keputusan bahwa kita membuat kontak hanya dengan ide-ide atau pada peristiwa manapun dengan entitas-entitas psikis.
6.     Idealisme personal adalah sistem filsafat Howison dan Bowne.
7.     Idealisme voluntarisme dikembangkan oleh Foulee dalam suatu sistem yang melibatkan tenaga pemikiran.
8.     Idealisme teistik pandangan dan sistem filsafat dari Ward.
9.     Idealisme monistik adalah penyebutan dan sistem filsafat dari Paulsen.
10. Idealisme etis adalah pandangan filsafat yang dianut oleh Sorley dan Messer.
11. Idealisme Jerman, pemicunya adalah Immanuel Kant dan dikembangkan oleh penerus-penerusnya. Idealisme merupakan pembaharuan dari Platonis, karena para pemikir melakukan terobosan-terobosan filosofis yang sangat penting dalam sejarah manusia, hanya dalam tempo yang sangat singkat, yaitu 40 tahun (1790- 1830) dan gerakan intelektual ini mempunyai kedalaman dan kekayaan berpikir yang tiada bandingnya.
 Konsep filsafat menurut aliran idealisme adala :
a.      metafisika-idealisme: secara absolut kenyataan yang sebenarnya adalah spiritual dan rohaniah, sedangkan secara kritis yaitu adanya kenyataan yang bersifat fisik dan rohaniah, tetapi kenyataan rohaniah yang lebih berperan.
b.     humanologi-idealisme: jiwa dikaruniai kemampuan berpikir yang dapat menyebabkan adanya kemampuan memilih.
c.      epistimologi-idealisme: pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali melalui berpikir. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang.
d.     aksiologi-idealisme: kehidupan manusia diatur oleh kewajiban-kewajiban moral yang diturunkan dari pendapat tentang kenyataan atau metafisika.
Demikian kemanusiaan merupakan bagian dari ide mutlak, Tuhan sendiri. Idea yang berpikir sebenarnya adalah gerak yang menimbulkan gerak lain. Gerak ini menimbulkan tesis yang dengan sendirinya menimbulkan gerak yang bertentangan, anti tesis. Adanya tesis dan anti tesisnya itu menimbulkan sintesis dan ini merupakan tesis baru yang dengan sendirinya menimbulkan anti tesisnya dan munculnya sintesis baru pula.
Demikian proses roh atau ide yang disebut Hegel dialektika. Proses itulah yang menjadi keterangan untuk segala kejadian. Proses itu berlaku menurut hukum akal. Jadi semua yang riil bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat riil. Maksudnya luasnya rasio sama dengan luasnya realitas, sedangkan realitas menurut Hegel adalah proses pemikiran (ide).
Prinsip-prisip Idealisme :
a.      Menurut idealisme bahwa realitas tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan atau ide (spirit). Menurut penganut idealisme, dunia beserta bagian-bagianya harus dipandang sebagai suatu sistem yang masing-masing unsurnya saling berhubungan. Dunia adalah suatu totalitas, suatu kesatuan yang logis dan bersifat spiritual.
b.     Realitas atau kenyataan yang tampak di alam ini bukanlah kebenaran yang hakiki, melainkan hanya gambaran atau dari ide-ide yang ada dalam jiwa manusia.
c.      Idealisme berpendapat bahwa manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dari pada materi bagi kehidupan manusia. Roh pada dasarnya dianggap sebagai suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma. Demikian pula terhadap alam adalah ekspresi dari jiwa.
d.     Idealisme berorientasi kepada ide-ide yang theo sentris(berpusat kepada Tuhan), kepada jiwa, spiritualitas, hal-hal yang ideal (serba cita) dan kepada norma-norma yang mengandung kebenaran mutlak. Oleh karena nilai-nilai idealisme bercorak spiritual, maka kebanyaakan kaum idealisme mempercayai adanya Tuhan sebagai ide tertinggi atau Prima Causa dari kejadian alam semesta ini.
c.       Idealisme Dalam Pendidikan
Aliran idealisme terbukti cukup banyak  berpengaruh dalam dunia pendidikan. William T. Harris adalah salah satu tokoh aliran pendidikan idealisme yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat. Idealisme terpusat tentang keberadaan sekolah. Aliran inilah satu-satunya yang melakukan oposisi secara fundamental terhadap naturalisme. Pendidikan harus terus eksis sebagai lembaga untuk proses pemasyarakatan manusia sebagai kebutuhan spiritual, dan tidak sekedar kebutuhan alam semata.
 Bagi aliran idealisme, peserta didik merupakan pribadi tersendiri, sebagai makhluk spiritual. Guru yang menganut paham idealisme biasanya berkeyakinan bahwa spiritual merupakan suatu kenyataan, mereka tidak melihat murid sebagai apa adanya, tanpa adanya spiritual. Sejak idealisme sebagai aliran filsafat pendidikan menjadi keyakinan bahwa realitas adalah pribadi, maka mulai saat itu dipahami tentang perlunya pengajaran secara individual. Pola pendidikan yang diajarkan filsafat idealisme berpusat dari idealisme. Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat dari anak atau materi pelajaran, juga bukan masyarakat tapi idealisme.[13] Maka tujuan pendidikan menurut aliran idealisme terbagi atas tiga hal, tujuan untuk individual, masyarakat, dan campuran antara keduanya.
Pendidikan idealisme untuk individual antara lain bertujuan agar anak didik bisa menjadi kaya dan memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian yang harmonis, dan pada akhirnya diharapkan mampu membantu individu lainnya untuk hidup lebih baik. Sedangkan tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan antar manusia. Sedangkan tujuan secara sintesis dimaksudkan sebagai gabungan antara tujuan individual dengan sosial sekaligus, yang juga terekspresikan dalam kehidupan yang berkaitan dengan Tuhan.
Guru dalam sistem pengajaran menurut aliran idealisme berfungsi sebagai  
a)     Guru adalah personifikasi dari kenyataan anak didik. Artinya, guru merupakan wahana atau fasilitator yang akan mengantarkan anak didik dalam mengenal dunianya lewat materi-materi dalam aktifitas pembelajaran. Untuk itu, penting bagi guru memahami kondisi peserta didik dari berbagai sudut, baik mental, fisik, tingkat kecerdasan dan lain sebagainya.
b)     Guru harus seorang spesialis dalam suatu ilmu pengetahuan dari siswa. Artinya, seorang guru itu harus mempunyai pengetahuan yang lebih dari pada anak didik.
c)     Guru haruslah menguasai teknik mengajar secara baik. Artinya, seorang guru harus mempunyai potensi pedagogik yaitu kemampuan untuk mengembangkan suatu model pembelajaran, baik dari segi materi dan yang lainnya.
d)    Guru haruslah menjadi pribadi yang baik, sehingga disegani oleh murid. Artinya, seorang guru harus mempunyai potensi kepribadian yaitu karakter dan kewibawaan yang berbeda dengan guru yang lain.
e)     Guru menjadi teman dari para muridnya. Artinya, seorang guru harus mempunyai potensi sosial yaitu kemampuan dalam hal berinteraksi dengan anak didik.

Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang beraliran idealisme harus lebih memfokuskan pada isi yang objektif. Pengalaman haruslah lebih banyak daripada pengajaran yang textbook. Agar pengetahuan dan pengalamannya aktual. Sedangkan implikasi Aliran Idealisme dalam Pendidikan yaitu :
a.    Tujuan, untuk membentuk karakter, mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial.
  Kurikulum, pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan.
c     Metode, diutamakan metode dialektika (saling mengaitkan ilmu yang satu dengan yang lain), tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan.
d.    Peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuan dasarnya.
e.    Pendidik bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan melalui kerja sama dengan alam.
Implementasi Idealisme dalam Pendidikan:[15]
a.      Pendidikan bukan hanya mengembangkan dan menumbuhkan, tetapi juga harus menuju pada tujuan yaitu dimana nilai telah direalisasikan ke dalam bentuk yang kekal dan tak terbatas.
b.     Pendidikan adalah proses melatih pikiran, ingatan, perasaan. Baik untuk memahami realita, nilai-nilai, kebenaran, maupun sebagai warisan sosial.
c.      Tujuan pendidikan adalah menjaga keunggulan kultural, sosial dan spiritual. Memperkenalkan suatu spirit intelektual guna membangun masyarakat yang ideal.
d.     Pendidikan idealisme berusaha agar seseorang dapat mencapai nilai-nilai dan ide-ide yang diperlukan oleh semua manusia secara bersama-sama.
e.      Tujuan pendidikan idealisme adalah ketepatan mutlak. Untuk itu, kurikulum seyogyanya bersifat tetap dan tidak menerima perkembangan.
f.      Peranan pendidik menurut aliran ini adalah memenuhi akal peserta didik dengan hakekat-hakekat dan pengetahuan yang tepat. Dengan kata lain, guru harus menyiapkan situasi dan kondisi yang kondusif untuk mendidik anak didik, serta lingkungan yang ideal bagi perkembangan mereka, kemudian membimbing mereka dengan kasih sayang dan dengan ide-ide yang dipelajarinya hingga sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya.


Sumber:



Aliran – Aliran Filsafat Pendidikan



Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan  dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.
Filsafat tidak didalami dengan melakukan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan  masalah secara persis, mencari solusi untuk itu , memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berfikir dan logika bahasa.
Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunkan dalam studi mengenai masalah- masalah pendidikan guna menemukan solusi yang tepat.
Dalam filsafat pendidikan terdapat berbagai aliran pendidikan.
Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu filsafat pendidikan “progresif” dan filsafat pendidikan “ Konservatif”. Yang pertama didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau. Yang kedua didsari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius. Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme, dan sebagainya.

Berikut aliran-aliran dalam filsafat pendidikan:

1. Filsafat Pendidikan Idealisme
Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali.

2. Filsafat Pendidikan Realisme
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dn mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia.
Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill

3. Filsafat Pendidikan Materialisme
Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural.
Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach.

4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami.
Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.

5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas.
Beberapa tokoh dalam aliran ini : Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich.

6. Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatugerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff.

7. Filsafat Pendidikan esensialisme
Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda.
Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.

8. Filsafat Pendidikan Perenialisme
Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji.
Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.

9. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil.
Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Sumber:
http://forum.indonesiamengajar.org


Filsafat Eksistensi


Menurut Jasper, Filsafat eksistensi adalah pemikiran yang memanfaatkan semua pengetahuan objektif dan juga mengatasi pengetahuan objektif itu . Melalui pemikiran itu manusia ingin menjadi dirinya sendiri karena manusia berpikir –menerangkan dengan caranya sendiri. Filsafat eksistensi bukanlah filsafat yang merenungkan kebenaran melainkan suatu praksis yaitu menghayati kebenaran. Artinya: kebenaran cara berpikir manusia dibuktikan melalui tindakannya yang berdasarkan pemikiran itu.

Penerangan Eksistensi

1.Eksistensi
Jiwa dan Allah dalam bahasa filsafat disebut eksistensi dan transendensi. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi dan tyermuat dalam waktu tetapi sekaligus mengisi waktu, karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Sedangkan adanya manusia termasuk dunia empiris disebut Dasein (beeing there). Dasein mencapai puncaknya di dunia ini sedangkan eksistensi tidak. Eksistensi hanya dapat diterangkan melalui tanda-tanda (signa) seperti tobat, pilhan, komunikasi dan kebebasan. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang «diberikan kepadanya (hadiah dari transendensi).
Eksistensi membutuhkan komunikasi. Penerangan eksistensi mulai dengan komunikasi dengan eksistensi lain karena manusia tidak puas hanya mengandalkan Dasein saja. Bagi Jasper, keinginan ini merupakan alasan terpenting untuk menjadi seorang filusuf. Ide baru dapat disebut relevan dari segi filsafat sejauh ide tersebut memajukan komunikasi. Dasar komunikasi itu akhirnya cinta.
2. Saat Keputusan
Kebebasan tidak dibutuhkan seandainya manusia mempunyai pengetahuan sempurna akan segala sesuatu dan tahu konsekuensi atas tindakan serta pilihannya. Peranan kehendak bebas mulai dimana pengetahuan tidak lagi ada/manusia memutuskan karena tidak tahu. Melalui keputusan ini eksistentis berkembang.dan dalam ketidaktahuan ini eksistensi justru mengalami hubungan dengan transendensi.
3. Situasi-situasi Batas
Sebagai Dasein, manusia selalu dalam situasi-situasi tertentu yaitu situasi-situasi batas. Situasi batas yang paling umum adalah faktisitas dan nasib. Di samping itu ada situasi-situasi batas khusus, yaitu kematian, penderitaan, perjuangan, dan kesalahan.
Semua situasi batas itu mendua karena kepad eksistensi diberikan kemungkinan berkembang atau mundur, tergantung dari keputusan manusia sendiri. Ber-eksistensi atau berdiri di hadapan transendensi mencapai puncaknya dalam keputusan-keputusan yang diambil dalam situasi-situasi batas.
a. Faktisitas
Kebebasan manusia tidak dimulai dari nol karenabanyak hal sudah ditentukan oleh historisitas, latarbelakang social, jenuis kelamin, dan banyak hal yang merupakan fakta, lepas dari pilihan manusia sendiri. Namun, dalam hal ini kehendak masih mempunyai peranan apakah faktisitas ini diterima atau ditolak.
b. Nasib
Situasi batas yang palig umum, yaitu faktisitas histories. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. “Untung” atau “malang“ dialami manusia sebagai kehendak di luar dirinya, ini yang disebut nasib. Sikap menerima dan mencintai dari pada mencoba untuk menolak akan memberi kesempatan untuk berkembang.
c. Kematian
Kematian baru dapat menjadi situasi batas apabila kita kehilangan orang yang kita cintai ataukematian kita sendiri yang tak dapat dihindari. Penderitaan karena keterpisahan, komunikasi terhenti membuka :rwetak” dalam “Desain” yang berakibat manusia berdiri dihadapan transendensi dan sebagai eksistensi , ia dapat berkembang. Di hadapan kematiannya manusia menyadari bahwa ia unik dan kematiannya berbeda dengan orang lain. Kesadaran terhadap keunikan ini dapat membangun eksistensi.
Mencintai hidup dan menilai hidup fana, takut akan kematian dan menyadari hakekat diri dihadapan kematian, tidak memahami sekaligus percaya kematian bukan sebuah kontradiksi. Kematian temas sekaligus musuh manusia.
d. Penderitaan
Semua bentuk penderitaan merusak Dasein sedikit demi sedikit. TApi penderitaan mendua karena dapat menjadi kesempatan eksistensi berkembang asal berani menerimanya. Dalam penderitaan manusia lebih mudah menjadi dirinya sendiri dari pada dalam keberuntungan. Manusia yang selalu beruntung cenderung menjadi dangkal.
e. Kesalahan
Tindakan manusia mempunyai akibat-akibat entah disadari maupun tidak. Manusia dapat berkembang melalui pengalaman situasi batasyang berupa kesalahan kalau ia mau menerima akibat-akibat tindakannya juga akibat0akibat yang tidak dikehendaki. Manusia harus mau mwenerima tanggung jawabnya. Orang yang melarikan diri atau mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan lain mungkin hidup dengan tenang, tapi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan eksistensi.
4. Kekurangan-kekurangan Dunia
Di dunia keutuhan kesempurnaan tidak dapat dicapai. Sela sesuatu yang termasuk
Dasein penuh pertentangan, cacat, dan kekerangan dan karena itu ketyentraman tidak pernah tercapai. Ketidaksempurnaan Dasein menimbulkan pertanyaan mengapa Dasein ada. Mengapa di dunia ini tidak hanya berisi hal yang baik atau sempurna saja? Pertannyaan ini menimbulkan situasi batas yang baru yang mencakup yang lain. Situasi batas ini timbul kalau eksistensi dan transendensi terikat pada historisitas Dasein. Manuisia hanya dapat mengalami eksistensi dan transendensi melalui gejala-gejala dalam dunia Dasein. Tanpa itu yang ada kekosongan.
5. Kegagalan
Kegagalan meupakan tempat pertemuan dengan transendensi. Dalam kegagalan
manusia terdampar dalam pantai transendensi. Kegagalan dan keterbatasan memperlihatkan ada sesuatu yang tak terbatas. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat religious
Penerangan Eksistensi
1. Eksistensi
Jiwa dan Allah dalam bahasa filsafat disebut eksistensi dan transendensi. Eksistensi adalah kebebasan yang diisi dan tyermuat dalam waktu tetapi sekaligus mengisi waktu, karena keputusan-keputusan bebas eksistensi menentukan sesuatu untuk selama-lamanya. Sedangkan adanya manusia termasuk dunia empiris disebut Dasein (beeing there). Dasein mencapai puncaknya di dunia ini sedangkan eksistensi tidak. Eksistensi hanya dapat diterangkan melalui tanda-tanda (signa) seperti tobat, pilhan, komunikasi dan kebebasan. Manusia mengalami eksistensi sebagai sesuatu yang «diberikan kepadanya (hadiah dari transendensi).
Eksistensi membutuhkan komunikasi. Penerangan eksistensi mulai dengan komunikasi dengan eksistensi lain karena manusia tidak puas hanya mengandalkan Dasein saja. Bagi Jasper, keinginan ini merupakan alasan terpenting untuk menjadi seorang filusuf. Ide baru dapat disebut relevan dari segi filsafat sejauh ide tersebut memajukan komunikasi. Dasar komunikasi itu akhirnya cinta.
2. Saat Keputusan
Kebebasan tidak dibutuhkan seandainya manusia mempunyai pengetahuan sempurna akan segala sesuatu dan tahu konsekuensi atas tindakan serta pilihannya. Peranan kehendak bebas mulai dimana pengetahuan tidak lagi ada/manusia memutuskan karena tidak tahu. Melalui keputusan ini eksistentis berkembang.dan dalam ketidaktahuan ini eksistensi justru mengalami hubungan dengan transendensi.
3. Situasi-situasi Batas
Sebagai Dasein, manusia selalu dalam situasi-situasi tertentu yaitu situasi-situasi batas. Situasi batas yang paling umum adalah faktisitas dan nasib. Di samping itu ada situasi-situasi batas khusus, yaitu kematian, penderitaan, perjuangan, dan kesalahan.
Semua situasi batas itu mendua karena kepad eksistensi diberikan kemungkinan berkembang atau mundur, tergantung dari keputusan manusia sendiri. Ber-eksistensi atau berdiri di hadapan transendensi mencapai puncaknya dalam keputusan-keputusan yang diambil dalam situasi-situasi batas.
a. Faktisitas
Kebebasan manusia tidak dimulai dari nol karenabanyak hal sudah ditentukan oleh historisitas, latarbelakang social, jenuis kelamin, dan banyak hal yang merupakan fakta, lepas dari pilihan manusia sendiri. Namun, dalam hal ini kehendak masih mempunyai peranan apakah faktisitas ini diterima atau ditolak.
b. Nasib
Situasi batas yang palig umum, yaitu faktisitas histories. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. “Untung” atau “malang“ dialami manusia sebagai kehendak di luar dirinya, ini yang disebut nasib. Sikap menerima dan mencintai dari pada mencoba untuk menolak akan memberi kesempatan untuk berkembang.
c. Kematian
Kematian baru dapat menjadi situasi batas apabila kita kehilangan orang yang kita cintai ataukematian kita sendiri yang tak dapat dihindari. Penderitaan karena keterpisahan, komunikasi terhenti membuka :rwetak” dalam “Desain” yang berakibat manusia berdiri dihadapan transendensi dan sebagai eksistensi , ia dapat berkembang. Di hadapan kematiannya manusia menyadari bahwa ia unik dan kematiannya berbeda dengan orang lain. Kesadaran terhadap keunikan ini dapat membangun eksistensi.
Mencintai hidup dan menilai hidup fana, takut akan kematian dan menyadari hakekat diri dihadapan kematian, tidak memahami sekaligus percaya kematian bukan sebuah kontradiksi. Kematian temas sekaligus musuh manusia.
d. Penderitaan
Semua bentuk penderitaan merusak Dasein sedikit demi sedikit. TApi penderitaan mendua karena dapat menjadi kesempatan eksistensi berkembang asal berani menerimanya. Dalam penderitaan manusia lebih mudah menjadi dirinya sendiri dari pada dalam keberuntungan. Manusia yang selalu beruntung cenderung menjadi dangkal.
e. Kesalahan
Tindakan manusia mempunyai akibat-akibat entah disadari maupun tidak. Manusia dapat berkembang melalui pengalaman situasi batasyang berupa kesalahan kalau ia mau menerima akibat-akibat tindakannya juga akibat0akibat yang tidak dikehendaki. Manusia harus mau mwenerima tanggung jawabnya. Orang yang melarikan diri atau mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan lain mungkin hidup dengan tenang, tapi kehilangan kesempatan untuk mengembangkan eksistensi.
4. Kekurangan-kekurangan Dunia
Di dunia keutuhan kesempurnaan tidak dapat dicapai. Sela sesuatu yang termasuk
Dasein penuh pertentangan, cacat, dan kekerangan dan karena itu ketyentraman tidak pernah tercapai. Ketidaksempurnaan Dasein menimbulkan pertanyaan mengapa Dasein ada. Mengapa di dunia ini tidak hanya berisi hal yang baik atau sempurna saja? Pertannyaan ini menimbulkan situasi batas yang baru yang mencakup yang lain. Situasi batas ini timbul kalau eksistensi dan transendensi terikat pada historisitas Dasein. Manuisia hanya dapat mengalami eksistensi dan transendensi melalui gejala-gejala dalam dunia Dasein. Tanpa itu yang ada kekosongan.
5. Kegagalan
Kegagalan meupakan tempat pertemuan dengan transendensi. Dalam kegagalan
manusia terdampar dalam pantai transendensi. Kegagalan dan keterbatasan memperlihatkan ada sesuatu yang tak terbatas. Pemikiran ini memperlihatkan bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat religious

.
Sumber